Kamis, 11 Juni 2015

makalah psikologi perkembangan, aspek individu

MAKALAH
Psikologi perkembangan
DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK  10
1.       WAHYU HENDRAWAN                                               
2.       ZAITUN ENI
3.       YUSI SUSANTI
4.       ASFIATIN NISWAH
                                                  SEMESTER/KLAS : II/F
JURUSAN : PGMI
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
MATARAM
TA. 2015/2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dengan hati dan pikiran yang tulus kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena berkat nikmat dan hidayah-Nya, makalah ini dapat kami selesaikan dengan baik dan sesuai waktu yang telah ditetapkan. Shalawat dan salam kami hanturkan kepada Nabi Muhammad  SAW. Beserta keluarga dan sahabatnya yang setia mengorbankan jiwa raga dan lainnya untuk tegaknya  syi’ar  Islam,  yang pengaruh dan mamfaatnya hingga kini masih terasa.
Selanjutnya makalah ini kami susun sebagai aplikasi untuk menunjang tugas mata Metodologi Studi Islam. Kami sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan agar makalah selanjutnya dapat menjadi lebih baik lagi.
            Akhir kata, terimakasih kami ucapkan kepada pihak-pihak yang membantu suksesnya makalah ini, semoga makalah ini bisa bermamfaat dalam kehidupan sehari-hari.











DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................... 2
DAFTAR ISI .......................................................................................  3
BAB I PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang........................................................................................ 4
2.      Rumusan Masalah................................................................................... 5
3.      Tujuan..................................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN
4.      Pengertian Perkembangan Individu........................................................ 6
5.      Perkembangan aspek fisik/motorik.......................................................... 7
6.      Perkembangan aspek kognitif.................................................................. 8
7.      Perkembangan aspek sosial...................................................................... 9
BAB III PENUTUP
8.      Kesimpulan............................................................................................ 15
9.      Saran...................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA.................................................. …………….iii











BAB I
PENDAHULUAN



1.      Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu wahana penting untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki pribadi yang unggul. Hal ini sebagaimana tercantum dalam undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, yang menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan pendidikan yang sangat mulia tersebut merupakan tanggung jawab guru untuk menuntun peserta didik mengembangkan dirinya dan peserta didik itu sendiri dalam mengembangkan kemampuannya. Perkembangan manusia dalam masyarakat modern ditandai oleh serangkaian tugas dimana individu harus belajar sepanjang hidupnya. Keberhasilan dalam perkembangan individu diharapkan dapat melahirkan kebahagiaan dan kesuksesan bagi individu untuk menyelesaikan tugas-tugas berikutnya. Sebaliknya kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangan itu dapat mengakibatkan  ketidakbahagiaan bagi individu, penolakan oleh masyarakat, dan kesulitan dengan tugas-tugas berikutnya.
Perkembangan merupakan suatu konsep yang cukup rumit dan komplek oleh karena itu untuk memahami perkembangan peserta didik tersebut, kita harus memahami terlebih dahulu definisi perkembangan itu sendiri. Definisi perkembangan yang diapaparkan oleh para ahli sangat beragam. Keberagaman konsep-konsep tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu secara umum dan secara khusus.
Berdasarkan uraian tersebut, penulis ingin mengkaji lebih jauh definisi perkembangan menurut konsepsi aliran-aliran tersebut melalui sebuah makalah dengan judul “Teori-Teori Perkembangan Individu”.






2.      Rumusan Masalah
a.       Menjelaskan definisi perkembangan individu
b.      Menjelaskan aspek-aspek fisik/motorik
c.       Menjelaskan aspek kognitif
d.      Menjelaskan aspek sosial
3.      Tujuan
a.       Mengetahui definisi perkembangan individu
b.      Mengetahui aspek-aspek fisik/motorik
c.       Mengetahui aspek kognitif
d.      Mengetahui aspek sosial






























BAB II
              PEMBAHASAN

1.      Definisi perkembangan individu
Perkembangan berarti serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Perubahan ini bersifat kualitas mengenani suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks.
Ada 4 arti perkembangan :
1. perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organisme, mulai lahir sampai mati
2. pertumbuhan
3. perubahan dalam bentuk dan dalam integrasi dari bagian-bagian jasmaniah ke dalam bagian-bagian fungsional
4. kedewasaan atau kemunculan pola-pola dari tingkah laku yang tidak dipelajari.

Dalam pengertian tersebut, kata kunci yang menjadi bahasan utama adalah perubahan. Perubahan dalam diri manusia terdiri atas perubahan kualitatif akibat dari perubahan psikis , dan perubahan kuantitatif akibat dari perubahan fisik. Perubahan kualitatif sering disebut dengan “perkembangan”, seperti perubahan dari tidak mengetahui menjadi mengetahui, dari kanak-kanak menjadi dewasa dan seterusnya.
Perkembangan tidak terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin membesar, melainkan didalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang terus menerus dan bersifat tetap dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ketahap kematangan melalui, pertumbuhan, pematangan dan belajar.
Perkembangan menghasilkan bentuk-bentuk dan ciri-ciri kemampuan baru yang berlangsung dari tahap aktivitas yang sedarhana ke tahap yang lebih tinggi. Perkembangan ini bergerak secara berangsur-angsur tetapi pasti, melalui satu tahap ke tahap berikutnya yang kian hari kian bertambah  maju.
Ini menunjukkan bahwa sejak masa konsepsi sampai meninggal dunia, individu tidak pernah statis, melainkan senantiasa mengalami perubahan-perubahan yang bersifat progresif dan berkesinambungan. Selama masa kanak-kanak sampai menginjak remaja misalnya, ia mengalami perkembangan dalam struktur fisik dan mental, jasmani dan rohani sebagai cirri-ciri dalam memasuki jenjang kedewasaan. Demikian seterusnya, perubahan-perubahan individu itu berlangsung terus tanpa henti.

2.      Perkembangan aspek fisik/motorik
          Perkembangan fisik bayi  dalam dua tahun pertama  kehidupan sangatlah ekstensif. Pada saat lahir, bayi memiliki kepala. Kepala ini banyak bergerak  karena refleks. Selain refleks pada kepala, bayi juga memiliki refleks-refleks lain, seperti refleks mencari (rooting reflex), refleks menghisap, refleks memeluk, rekleks menggenggam,dll. Refleks-refleks tersebut penting pada bayi karena merupakan mekanisme pertahanan hidupnya.
         Perkembangan motorik meliputi perkembangan motorik kasar dan motorik halus.
a.       Perkembangan motorik kasar
Kemampuan anak untuk duduk, berlari, dan melompat termasuk contoh perkembangan motorik kasar. Perkembangan motorik kasar dipengaruhi oleh proses kematangan anak. Oleh karena proses perkembangan setiap anak berbeda maka laju perkembangan seorang anak bisa saja berbeda satu sama lain.
b.      Perkembangan motorik halus
Adapun perkembangan motorik halus merupakan perkembangan gerakan anak yang menggunakan otot-otot kecil atau sebagian anggota tubuh tertentu. Perkembangan pada aspek ini dipengaruhi oleh kesempatan anak untuk belajar dan berlatih. Menulis, menggunting dan menyusun balok adalah contoh gerakan motorik halus.
Faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan fisik
Pertumbuhan fisik sejak lahir sampai dewasa dipengaruhi oleh berbagai faktor.
9 faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik ;
           1. Keturunan
           2. Gizi
           3. Perbedaan suku
           4. Musim dan iklim
           5. Penyakit
           6. Himpitan psikososial
           7. Urbanisasi
           8. Jumlah keluarga dan status sosial ekonomi
           9. Adanya kecenderungan sekuler

3.      Perkembangan aspek kognitif
            Kognisi sebagai kapasitas kemampuan berpikir dan segala bentuk pengenalan, digunakan individu untuk melakukan interaksi dengan lingkungannya. Dengan berfungsinya kognisi mengakibatkan individu memperoleh pengetahuan dan menggunakannya sehingga muncul organisasi, yaitu kecendrungan untuk menghasilakan struktur kognitif yang kompleks yakni system pengetahuan atau cara berfikir yang makin sempurna.
Uraian diatas menunjukkan bahwa perkembangan kognitif dapat dipandang sebagai suatu perubahan dari suatu keadaan seimbang ke dalam keseimbangan baru. Setiap tahap perkembangan kognitif mempunyai bentuk keseimbangan tertentu sebagai fungsi dari kemampuan memecahkan masalah pada tahap itu. Ini berarti penyeimbangan memungkinkan terjadinya transformasi  dari bentuk penalaran sedrehana ke bentuk penalaran yang lebih kompleks, sampai mencapai keadaan terakhir yang diwujudkan dengan kematangan berfikir orang dewasa.
Perkembangan fungsi-fungsi dan perilaku kognitif menurut Piaget berlangsung mengikuti suatu system atau prinsip atau tekhnik keseimbangan dengan menggunakan dua cara yaitu assimilation dan accommodation.
a.       Asimilasi
Asimilasi  merupakan proses dimana stimulus baru dari lingkungan diintegrasikan pada skema yang telah ada. Dengan kata lain, asimilasi merujuk pada usaha individu untuk menghadapi lingkungan dengan membuatnya cocok kedalam struktur organism itu sendiri dengan jalan menggabungkannya. Proses ini dapat diartikan sebagai suatu objek atau ide baru ditafsirkan sehubungan dengan gagasan  atau tindakan yang yang telah diperoleh anak. Asimilasi tidak menghasilakn perkembangan atau skema baru, melainkan hanya menunjang pertumbuhan skema.
b.      Akomodasi 
           Akomodasi merupakan proses yang terjadi apabila anak berhadapan dengan stimulus baru dan anak mencoba mengasimilasikan stimulus baru itu tetapi tidak dapat dilakukan karena menurut dia tidak cocok dengan skema yang sudah ada. Dalam hal ini anak akan menciptakan skema baru atau mengubah skema yang sudah ada sehingga sesuai dengan keadaan stimulus tersebut. Akomodasi dapat diartikan sebagai proses pembentukan skema baru atau perubahan skema yang sudah ada. Teknik akomodasi digunakan apabila individu memandang bahwa objek-objek atau masalah-masalah baru tidak dapat disesuaikan dengan kerangka berfikirnya yang ada sehingga harus mengubah strukturnya.

4.      Perkembangan aspek social
Secara potensial (fitriah) manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial (zoon politicon). Namun untuk mewujudkan potensi tersebut ia harus berada dalam interaksi dengan lingkungan manusia-manusia lain.
Aspek social berkaitan dengan kemampuan anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Misalnya, kemampuan anak untuk menyapa dan bermain bersama teman-teman sebayanya. Aktivitas bermain bagi seorang anak memiliki peran yang cukup besar dalam mengembangkan kecakapan sosialnya sebelum anak mulai berteman.
Perkembangan social terus berkembangan seiring dengan berkembangnya keterampilan social.
Sosialisasi merupakan proses melatih kepekaan diri anak terhadap rangsangan social yang berhubungan dengan tuntutan social sesuai dengan norma, nilai, dan harapan social. Aktivitas bermain bagi seorang anak memiliki peranan yang cukup besar dalam mengembangkan kecakapan sosialnya sebelum anak mulai pada tahap berteman sebagaimana orang dewasa memasuki kehidupan ditengah masyarakat.
1)    Proses sosialisasi dan perkembangan sosial
Secepat individu menyadari bahwa diluar dirinya itu ada orang lain, maka mulailah pula menyadari bahwa ia harus belajar apa yang seyogyanya ia perbuat seperti yang diharapkan orang lain. Proses belajar untuk menjadi makhluk sosial ini disebut sosialisasi.
Sosialisasi itu merupakan suatu proses dimana individu (terutama anak) melatih kepekaan dirinya terhadap rangsangan-rangsangan sosial terutama tekanan-tekanan dan tuntutan kehidupan (kelompoknya); belajar bergaul dengan dan bertingkah laku didalam lingkungan sosio-kulturalnya.
Perkembangan sosial dapat diartikan sebagai sequence dari perubahan  yang berkesinambungan dalam perilaku individu untuk menjadi makhluk sosial yang dewasa. Charlotte Buhler mengidentifikasikan perkembangan sosial ini dalam term kesadaran hubungan aku- engkau atau hubungan subjektif-objektif. Proses perkembangannya berlangsung secara berirama.
(a)  Masa kanak-kanak awal (0,0-3,0)     : subjektif
(b) Masa krisis I (3,0-4,0)                       : trotz alter (anak-degil)
(c)  Masa kanak-kanak akhir (4,0-6,0)    : subjektif menuju objektif
(d) Masa anak sekolah (6,0-12,0)           : objektif
(e)  Masa krisis II (12-13)                       : pre-puber (anak tanggung)
(f)   Masa remaja awal (13,0-16,0)          : subjektif menuju objektif
(g)  Masa remaja akhir (16,0-18,0)                   : objektif

2)    Kecenderungan Pola Orientasi Sosial
Branson mengidentifikasi berdasrkan hasil studi longitudinalnya terhadap anak usia 5-16 tahun bahwa ada tiga pola kecenderungan sosial pada anak, ialah (1) withdrawal-expansive, (2) reactivity-placidity dan (3) passivity-dominance



Tidak ada komentar:

Posting Komentar